4 Macam Budaya dan Tradisi di Bali

4 Macam Budaya dan Tradisi di Bali - Budaya dan tradisi diwariskan oleh para leluhur, jika budaya dan tradisi tersebut diwariskan sampai sekarang ini tentu akan menjadi tradisi dan budaya yang unik. Seperti yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia termasuk Bali yang memiliki banyak macam budaya dan tradisi dari masa lampau yang banyak berasal dari warisan Bali kuno. 


Dan bagi kita sekarang, merupakan hal yang sangat menarik untuk diketahui, tidak hanya bagi wisatawan namun juga bagi warga lokal. Berikut macam-macam tradisi dan budaya unik yang ada di beberapa tempat di pulau Bali.

1. Pemakaman Desa Trunyan
Suatu tradisi unik dengan budaya yang berbeda bisa Anda temukan di Desa Trunyan Kintamani, Kabupaten Bangli. Disini saat orang meninggal, maka tubuh atau jasad orang tersebut akan diletakkan ke sebuah pohon yang disebut pohon menyan. Jasad tersebut lalu diletakkan di atas tanah tanpa dikubur dan hanya dipagari oleh bambu atau orang sekitar menyebutnya ancak saji agar tidak dicari oleh binatang atau hewan liar. 

Uniknya jasad tersebut tidak berbau busuk sampai hanya tersisa tulang belulang saja. Pemakaman di Trunyan ini melengkapi daftar budaya dan tradisi unik bumi Nusantara di Bali. Karena keunikan tersebut pemakaman desa Trunyan menjadi destinasi wisata di pulau Bali dan menjadi tujuan tour para wisatawan.

Baca Juga :

2. Tradisi Mekare-kare
Tradisi Mekare-kare di Tenganan Mekare-kare ini dikenal dengan sebutan perang pandan. Perang dilakukan berhadap-hadapan satu lawan satu. Dan masing-masing memegang segepok pandan berduri yang berungsi sebagai senjata. 

Mekare-kare atau biasa dikenal dengan perang Pandan digelar saat Ngusaba kapat (Sasih Sambah). Budaya dan tradisi unik ini digelar di halaman Bale Agung yang berlangsung selama 2 hari dimulai dari jam 2 sore. Ritual atau prosesi tersebut bertujuan untuk menghormati Dewa Perang atau Dewa Indra yang merupakan dewa Tertinggi bagi umat Hindu di Tenganan.

3. Tradisi Omed-omedan
Tradisi Omed omedan di Bali digelar di tengah kota Denpasar, tepatnya di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan. Tradisi ini dilakukan setahun sekali, saat hari Ngembak Geni atau sehari setelah hari Raya Nyepi. Uniknya prosesi ini hanya diikuti oleh kalangan remaja yang belum menikah dengan umur minimal 13 tahun. 

Omed-omedan berarti tarik menarik antar pemuda dan pemudi warga yang terkadang dibarengi dengan adegan ciuman diantara keduanya. Tradisi ini digelar sebagai wujud kegembiraan setelah pelaksanaan Hari Raya Nyepi, tradisi ini memiliki nilai sakral dan dipercaya jika tidak dilangsungkan maka akan mengalami hal buruk.

4. Gebug Ende Seraya
Tradisi ini dikenal juga dengan perang rotan, dimana dua orang laki-laki akan saling berhadap-hadapan dan saling serang dengan sebatang rotan kemudian tangan satunya memegang tameng untuk menangkis serangan lawan, dan diantara keduanya dibatasi dengan batang rotan atau garis tengah agar lawan tidak bisa masuk.

Tradisi unik di desa Seraya, Karangasem Bali Timur ini menjadi sebuah budaya yang diwariskan oleh leluhur sampai sekarang. Tujuan utama dari prosesi Gebug Ende ini adalah sebagai ritual memohon hujan, dan sudah pasti tujuan menggelar ritual ini adalah karena musim kemarau. 

Biasanya tradisi ini dilakukan pada bulan Oktober – Nopember setiap tahunnya. Kondisi geografis dari desa Seraya yang berada di wilayah perbukitan memang rentan dengan masalah air, itulah sebabnya ritual ini dilangsungkan untuk memohon hujan di desa Seraya


0 Response to "4 Macam Budaya dan Tradisi di Bali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel